Asmen.id, Kabupaten Bekasi –– Pendidikan Nasional. Percepatan teknologi dan dinamika global yang semakin kompleks menuntut perubahan mendasar dalam sistem pendidikan nasional. Pendidikan tidak lagi cukup berorientasi pada capaian akademik semata, tetapi harus membentuk manusia Indonesia yang berpikir kritis, berkarakter kuat, taat hukum, kreatif, serta memiliki landasan moral dan spiritual yang kokoh.
Sejumlah pakar pendidikan menilai pendekatan pendidikan holistik berbasis integrasi Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, dan Spiritual (LSTEAMS) menjadi strategi penting dalam menjawab berbagai persoalan multidimensi bangsa. Model pendidikan ini dipandang relevan untuk membangun sumber daya manusia yang utuh, tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara etika dan sosial.
Seorang pemerhati pendidikan nasional menegaskan bahwa banyak persoalan bangsa tidak lahir dari kekurangan sumber daya manusia yang cerdas, melainkan dari lemahnya integritas dan kesadaran moral. “Banyak persoalan bangsa bukan disebabkan oleh kurangnya orang pintar, melainkan karena lemahnya integritas, empati, dan kesadaran moral,” ujarnya. Menurutnya, pendidikan yang hanya menekankan aspek kognitif berpotensi melahirkan individu cerdas yang tidak memiliki tanggung jawab sosial.
Dari sisi hukum dan sains, pendidikan sejak dini dinilai penting untuk membangun nalar kritis dan kesadaran akan keadilan. Pendidikan hukum menanamkan pemahaman tentang hak dan kewajiban warga negara, sementara sains membentuk pola pikir rasional dan berbasis data. Integrasi keduanya membantu peserta didik memahami kebebasan dalam bingkai tanggung jawab.
Sementara itu, penguasaan teknologi dan engineering menjadi faktor kunci dalam meningkatkan daya saing bangsa di tingkat global. Namun para ahli mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus dibarengi dengan penguatan karakter. Tanpa nilai kemanusiaan, teknologi hanya akan menghasilkan efisiensi tanpa empati dan berpotensi disalahgunakan.
Peran seni dan matematika juga dinilai krusial dalam pendidikan holistik. Seni membentuk kepekaan rasa, kreativitas, serta empati sosial, sedangkan matematika melatih ketelitian, konsistensi, dan kemampuan memecahkan masalah. Keseimbangan antara logika dan rasa dianggap penting dalam membentuk kepemimpinan yang bijak dan berorientasi pada kepentingan bersama.
Unsur spiritualitas ditempatkan sebagai kompas moral dalam keseluruhan proses pendidikan. Spiritualitas tidak semata dimaknai sebagai praktik keagamaan, tetapi sebagai kesadaran akan makna hidup, tanggung jawab moral, serta hubungan harmonis antara manusia, sesama, dan alam. Tanpa spiritualitas, ilmu pengetahuan dinilai berpotensi kehilangan arah dan nilai kemanusiaannya.
Dalam konteks pembangunan nasional dan bonus demografi yang sedang dihadapi Indonesia, pendidikan holistik LSTEAMS dipandang sebagai kebutuhan mendesak. Seorang akademisi menyebut pendidikan sebagai investasi peradaban jangka panjang. “Pendidikan adalah investasi peradaban. Jika hari ini kita gagal membangun pendidikan yang berkarakter dan bernilai, maka krisis di masa depan hanya tinggal menunggu waktu,” katanya. Pendekatan pendidikan terpadu ini diharapkan mampu melahirkan generasi yang cerdas, bermoral, dan berjiwa spiritual demi masa depan bangsa yang bermartabat.
(Husni Sholihin)

Komentar