Terkini
Beranda » Berita » Legenda Gunung Sumbing dan Sindoro, Kisah Pengorbanan dari Tanah Jawa

Legenda Gunung Sumbing dan Sindoro, Kisah Pengorbanan dari Tanah Jawa

Asmen.id, Jakarta ——- Legenda mengenai Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro merupakan cerita rakyat yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat Jawa Tengah, khususnya di wilayah Wonosobo dan Temanggung. Kisah ini menjelaskan asal-usul dua gunung yang berdiri berdampingan tersebut melalui rangkaian peristiwa sarat makna.

Cerita ini diyakini terjadi pada masa lampau ketika kerajaan-kerajaan kuno masih berdiri di tanah Jawa. Dalam tradisi lisan masyarakat, legenda tersebut diwariskan sebagai pengingat nilai moral tentang kekuasaan, pengorbanan, dan keseimbangan hidup.

Peristiwa bermula di Kerajaan Medang, sebuah negeri yang digambarkan makmur, subur, dan tenteram. Kerajaan ini dipimpin oleh Raja Airlangga, sosok pemimpin yang dikenal bijaksana serta mengutamakan kesejahteraan rakyatnya.

Di bawah kepemimpinannya, kehidupan sosial dan ekonomi berkembang pesat. Sawah-sawah menghasilkan panen melimpah, perdagangan berjalan lancar, dan rakyat hidup dalam kedamaian. Kondisi ini mencerminkan stabilitas pemerintahan yang kuat dan terarah.

Raja Airlangga memiliki dua putra dengan karakter berbeda. Putra sulung, Jaka Sumbing, dikenal berani, kuat, dan mahir dalam peperangan, tetapi memiliki sifat angkuh serta ambisi besar untuk menjadi yang paling unggul.

Masjid As-Syuhada Dipadati Jamaah pada Malam Pertama Tarawih di Cisereuh

Sementara itu, putra bungsu, Jaka Sindoro, tumbuh sebagai pribadi yang tenang, rendah hati, serta gemar mempelajari ilmu pengetahuan dan naskah kuno. Ia lebih mengedepankan kebijaksanaan dibanding kekuatan fisik.

Rintangan alam menuju Gunung Segara Wening menjadi cermin perbedaan watak Jaka Sumbing yang bertumpu pada tenaga dan keberanian, serta Jaka Sindoro yang mengedepankan akal dan kehati-hatian. Asmen.id

Perbedaan karakter kedua pangeran tersebut menjadi latar penting dalam kisah ini. Konflik batin dan pertentangan nilai di antara keduanya kelak memengaruhi perjalanan dan nasib kerajaan.

Masalah besar muncul ketika wabah penyakit misterius melanda Kerajaan Medang. Penyakit tersebut menyebar cepat dan menyebabkan banyak rakyat jatuh sakit tanpa adanya obat yang mampu menyembuhkan.

Kondisi kerajaan berubah drastis dari kemakmuran menjadi suasana duka. Aktivitas perdagangan terhenti, sawah terbengkalai, dan tangis keluarga terdengar di berbagai penjuru negeri.

Dalam situasi genting itu, Jaka Sindoro meneliti berbagai naskah kuno di perpustakaan kerajaan. Ia menemukan petunjuk mengenai bunga sakti bernama Tirta Kahuripan yang diyakini mampu menyembuhkan segala penyakit.

Tarawih Perdana YDKJT Awali Pembinaan Ramadan 1447 H

Bunga tersebut konon hanya tumbuh di puncak Gunung Segara Wening, tempat yang dikenal angker dan penuh bahaya. Lokasi inilah yang menjadi tujuan perjalanan kedua pangeran demi menyelamatkan rakyat.

Menyadari waktu yang semakin mendesak, Jaka Sumbing dan Jaka Sindoro memutuskan berangkat bersama. Keputusan ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab mereka terhadap keselamatan kerajaan.

Perjalanan menuju puncak gunung dipenuhi rintangan alam, mulai dari hutan lebat, sungai berarus deras, hingga lembah berkabut. Di setiap ujian, perbedaan pendekatan keduanya semakin terlihat.

Jaka Sumbing lebih mengandalkan kekuatan dan keberanian dalam menghadapi bahaya. Sebaliknya, Jaka Sindoro memilih bersikap hati-hati, menggunakan perhitungan dan kecermatan dalam mengambil keputusan.

Setelah melewati berbagai rintangan, mereka tiba di puncak dan bertemu penguasa gaib bernama Ratu Arumi. Ia mengizinkan pengambilan bunga Tirta Kahuripan dengan syarat berat, yakni salah satu dari mereka harus tinggal selamanya sebagai penjaga gunung.

Premiere Dunia Sold Out, Ghost in the Cell Tuai Apresiasi di Berlinale 2026

Syarat tersebut memicu konflik batin. Jaka Sindoro bersedia berkorban demi keselamatan rakyat, sedangkan ambisi Jaka Sumbing mendorongnya untuk bertindak gegabah demi kemasyhuran pribadi.

Dalam perebutan yang terjadi, bunga Tirta Kahuripan terbelah dan kehilangan kekuatannya. Peristiwa ini memicu murka sang penguasa gaib dan berujung pada kutukan terhadap Jaka Sumbing yang berubah menjadi gunung batu.

Sebagai jalan terakhir, Jaka Sindoro meracik sisa air kolam tempat bunga itu tumbuh menjadi ramuan penyembuh. Ia kemudian mengorbankan dirinya dan berubah menjadi gunung yang berdiri tegak di samping kakaknya.

Ramuan tersebut berhasil menyelamatkan rakyat Kerajaan Medang dari wabah. Meski kerajaan kembali pulih, Raja Airlangga harus menerima kenyataan pahit kehilangan kedua putranya.

Sejak saat itu, masyarakat mempercayai bahwa Gunung Sumbing melambangkan kesombongan yang berujung penyesalan, sementara Gunung Sindoro menjadi simbol ketulusan dan pengorbanan. Legenda ini terus diwariskan sebagai refleksi tentang bagaimana kekuatan dan kebijaksanaan seharusnya berjalan seimbang dalam kehidupan manusia.  (***)

 

Sumber : @WalkingInJava

× Advertisement
× Advertisement