Aamen.id, Jakarta——–Pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan ratusan tokoh ulama serta pimpinan organisasi Islam di Istana Negara menarik perhatian publik. Pertemuan yang berlangsung di bulan Ramadan, pada Kamis, [5/3/2026l. Diihadiri sekitar 160 tokoh dari berbagai organisasi Islam yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Adian Husaini, menyebut pertemuan tersebut digelar sebagai forum penjelasan pemerintah terkait situasi geopolitik global dan sikap Indonesia terhadap konflik di Timur Tengah.
Adian menjelaskan, para tokoh yang hadir berasal dari beragam kalangan, termasuk pimpinan pondok pesantren dan dai nasional. Beberapa tokoh yang disebut hadir di antaranya Mama Dedeh, Buya Yahya, serta perwakilan dari pesantren besar seperti Lirboyo, Gontor, Tebuireng, dan Darunnajah. Ia mengatakan undangan diberikan kepada seluruh ormas Islam yang terdaftar di MUI.
Pertemuan tersebut diawali dengan kegiatan buka puasa bersama di lingkungan Istana. Setelah salat Isya, Presiden Prabowo baru memasuki forum utama sekitar pukul 20.30 WIB. Dalam kesempatan itu, Adian mengatakan presiden menyampaikan penjelasan panjang selama hampir tiga jam mengenai berbagai isu, terutama konflik di Timur Tengah serta posisi Indonesia dalam upaya perdamaian.
Menurut Adian, format pertemuan lebih bersifat penjelasan langsung dari presiden kepada para ulama. Forum tidak disiapkan sebagai dialog terbuka dengan banyak penanya. Namun sebelum acara utama, presiden sempat melakukan pembicaraan khusus dengan tiga tokoh penting, yaitu Rais Aam Nahdlatul Ulama, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, dan Ketua Umum MUI.
Dalam penjelasannya, Prabowo memaparkan secara rinci latar belakang kebijakan luar negeri Indonesia, termasuk pembahasan mengenai kerja sama internasional yang belakangan ramai diperdebatkan publik. Adian menilai pemaparan tersebut cukup komprehensif karena disertai data, peta geopolitik, hingga dokumentasi pertemuan internasional yang pernah diikuti presiden.
Adian mengatakan bahwa presiden juga menyinggung kemungkinan evaluasi terhadap kerja sama tersebut apabila tidak lagi memberikan peluang bagi terwujudnya solusi dua negara (two-state solution) bagi Palestina. Ia menyebut Prabowo bahkan menyampaikan komitmen bahwa Indonesia dapat keluar dari kesepakatan tersebut jika tidak lagi sejalan dengan tujuan mendukung kemerdekaan Palestina.
“Presiden menyampaikan bahwa Indonesia masuk dalam kerja sama itu karena ada arah menuju pembentukan negara Palestina. Jika harapan itu tidak ada lagi, Indonesia siap keluar, bahkan beliau mengatakan bisa mengajak negara lain keluar bersama,” kata Adian.
Lebih jauh, Adian menilai pertemuan tersebut juga membahas dampak luas konflik global terhadap Indonesia, termasuk potensi risiko bagi pekerja migran Indonesia di Timur Tengah dan stabilitas ekonomi nasional. Ia menambahkan bahwa pertemuan itu menunjukkan pentingnya komunikasi pemerintah dengan tokoh masyarakat agar kebijakan luar negeri dapat dipahami secara lebih utuh oleh publik. (***)
Foto : Tangkapan layar @SuaraIslamchanel.
(Rizki).
