Enam Ilustrator Indonesia Warnai Visual Film Ghost in the Cell

Asmen.id, Jakarta — Sutradara dan penulis Joko Anwar menggandeng enam ilustrator Indonesia berkiprah internasional dalam produksi film terbarunya, Ghost in the Cell. Kolaborasi ini diumumkan sebagai bagian dari strategi kreatif untuk memperkuat identitas visual film horor komedi tersebut melalui pendekatan seni lintas medium. Pada Rabu, (4/3/2026).

Film Ghost in the Cell diproduksi oleh Come and See Pictures bersama RAPI Films dan Legacy Pictures. Untuk pemasaran dan penjualan internasional, proyek ini menggandeng Barunson E&A sebagai agen penjualan global. Film tersebut dijadwalkan tayang serentak di bioskop mulai 16 April 2026.

Enam ilustrator yang terlibat yakni Anwita Citriya, Benediktus Budi, Benny Bennos Kusnoto, Coki Greenway, Hafidzjudin, dan Rudy AO. Mereka bertanggung jawab menciptakan konsep “instalasi kengerian” yang hadir dalam sejumlah adegan penting. Visual tersebut dirancang tidak hanya untuk menghadirkan rasa takut, tetapi juga memuat simbol dan representasi atas keresahan sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Joko Anwar menyampaikan bahwa sejak tahap pengembangan naskah, ia telah merancang film ini sebagai ruang temu para kreator lintas disiplin. Ia menilai ilustrator memiliki kekuatan membangun imajinasi visual yang berbeda dari pendekatan sinematik konvensional. “Saya ingin film ini menjadi ruang kolaborasi yang setara. Para ilustrator menghadirkan perspektif baru yang membuat dunia Ghost in the Cell terasa lebih hidup dan memiliki lapisan makna,” ujar Joko Anwar.

Anwita Citriya dikenal sebagai ilustrator yang aktif di industri komik internasional. Ia terlibat dalam proyek Creepshow serta bekerja sama dengan BOOM! Studios, dan menjadi ilustrator sampul untuk lini Universal Monsters. Gaya horor psikologis yang ia usung dinilai mampu memperdalam nuansa mencekam yang dibutuhkan dalam film ini.

Manchester United Takluk 1-2 dari Newcastle di St James’ Park

Benediktus Budi, ilustrator digital asal Wonogiri, banyak menghasilkan karya bertema gelap untuk kebutuhan merchandise musik dan hiburan internasional, termasuk untuk band Toxic Holocaust serta program Scare Tactics di USA Network. Sementara itu, Benny Bennos Kusnoto memiliki pengalaman panjang sebagai storyboard artist dan pernah berkontribusi pada komik Justice League Dark, serta proyek ilustrasi bersama Namco Bandai dan Stone Blade Entertainment.

Coki Greenway yang bermukim di Purwokerto telah lama berkarya di ranah ilustrasi musik rock dan metal dunia, dengan klien seperti AC/DC, Mötley Crüe, Judas Priest, dan DragonForce, serta mengerjakan proyek merchandise untuk Marvel. Adapun Hafidzjudin dikenal dengan karakter visual gelap dan detail intens bernuansa gore, serta berkolaborasi dengan sejumlah grup musik cadas Indonesia seperti Seringai dan Dead Squad. Rudy AO, ilustrator asal Bandung, dikenal sebagai artis sampul komik DC dan properti intelektual Red Sonja serta Vampirella, dengan pendekatan hiper-realistis yang sinematik.

Secara cerita, Ghost in the Cell mengangkat kehidupan para narapidana di Lapas Labuhan Angsana yang diwarnai ketidakadilan dan kekerasan. Teror muncul ketika seorang tahanan baru masuk dan kematian misterius terjadi beruntun. Para napi kemudian menyadari adanya sosok gaib yang memburu mereka dengan aura paling negatif. Demi bertahan hidup, mereka berupaya memperbaiki diri dan menjaga energi positif, hingga akhirnya memilih bersatu melawan penindasan dan ancaman supranatural yang mengintai di dalam penjara tersebut. (***)

 

(Rizki)

Evakuasi Warga Sulsel di Timur Tengah Disiapkan Lewat Jalur Darat
Rizki Trainar: