Asmen.id, Jakarta —– Press conference dan press screening film Ghost in the Call digelar di Epicentrum XXI. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Rapi Film, Legacy Pictures, dan Amar Bank sebagai promotional partner, serta dihadiri insan perfilman dan awak media.
Acara tersebut menjadi momentum penting untuk memperkenalkan film kepada publik sekaligus mengungkap proses kreatif di balik produksinya. Kehadiran para jurnalis juga membuka ruang diskusi yang aktif terkait isi dan pesan film.
Para peserta media memberikan berbagai tanggapan setelah menyaksikan film tersebut. Mereka menilai film ini menghadirkan pengalaman menonton yang intens dengan simbol-simbol kuat yang merefleksikan kondisi sosial.
Salah satu jurnalis menggambarkan suasana film sebagai potret kekacauan sosial yang ekstrem. Ia menilai penggunaan metafora dalam film memperkuat pesan yang ingin disampaikan kepada penonton.
Menanggapi hal tersebut, Joko Anwar menjelaskan bahwa pengembangan cerita telah dimulai sejak 2017 hingga 2018. Ia menyebut proses tersebut berlangsung panjang dengan harapan adanya perubahan sosial yang lebih baik.
Namun, ia mengakui bahwa realitas yang terjadi justru semakin kompleks. Kegelisahan terhadap kondisi tersebut kemudian menjadi dasar dalam membangun narasi film.
“Indonesia itu absurd. Banyak hal yang tidak masuk akal, tetapi dianggap biasa,” ujar Joko Anwar.
Ia menegaskan bahwa film ini tidak hanya menampilkan sisi gelap. Menurutnya, unsur harapan tetap dihadirkan sebagai bagian dari refleksi kemanusiaan.
Dalam penggarapannya, film ini memadukan berbagai genre seperti komedi, horor, dan drama. Pendekatan tersebut digunakan untuk menggambarkan kehidupan masyarakat yang penuh ironi dan kontradiksi.
Joko Anwar juga mengibaratkan sistem dalam film sebagai sebuah penjara. Ia menyampaikan bahwa kondisi tersebut merepresentasikan keterikatan masyarakat dalam sistem yang membatasi.
“Penjaranya adalah negara, dan kita semua ada di dalamnya,” kata dia.
Aktor Aming Sugandhi menjelaskan bahwa karakter yang ia perankan dibangun melalui pendekatan emosional dan psikologis. Ia menilai latar belakang trauma menjadi elemen penting dalam pembentukan karakter.
Menurut Aming, proses eksplorasi karakter dilakukan secara mendalam agar tokoh yang ditampilkan terasa hidup. Pendekatan tersebut juga membuat karakter lebih relevan dengan realitas sosial.
Dari sisi visual, film ini melibatkan sejumlah ilustrator profesional untuk merancang adegan kematian secara artistik. Setiap adegan dirancang secara khusus oleh ilustrator berbeda yang memiliki pengalaman internasional.
Pendekatan visual tersebut menghasilkan tampilan yang kuat dan beragam. Simbol-simbol yang dihadirkan memiliki makna yang berkaitan erat dengan tema besar film.
Joko Anwar menjelaskan bahwa sosok “hantu” dalam film merupakan representasi sisi gelap manusia. Ia menyebut karakter tersebut sebagai refleksi kondisi ketika manusia berada dalam titik terburuknya.
“Hantu itu adalah kita sendiri, ketika berada dalam kondisi paling buruk,” ujarnya.
Film ini juga mengangkat isu lingkungan sebagai bagian dari cerita. Entitas dalam film digambarkan berasal dari hutan yang rusak akibat ulah manusia, sebagai simbol konsekuensi dari eksploitasi alam.
Selain itu, film ini telah diputar dalam forum internasional dan mendapatkan respons positif. Penonton dari berbagai negara dinilai mampu memahami pesan film meskipun berangkat dari konteks lokal Indonesia.
Joko Anwar menegaskan bahwa keautentikan menjadi kekuatan utama dalam film ini. Ia menyampaikan bahwa cerita yang jujur dan berakar dari realitas lokal memiliki daya tarik universal bagi penonton global. (***)

