Kolaborasi Indonesia–Malaysia Warnai Produksi Ghost in the Cell: Hantu di Penjara

Asmen.id, Jakarta——Produksi film Ghost in the Cell: Hantu di Penjara menghadirkan kolaborasi lintas negara yang memperkaya dinamika di lokasi syuting sekaligus memperkuat kualitas akting para pemainnya. Film bergenre horor ini digarap oleh sutradara ternama Indonesia, Joko Anwar.

Keterlibatan sineas dari Malaysia menjadi salah satu sorotan dalam proses produksi film tersebut. Kolaborasi ini tidak hanya memperluas perspektif kreatif, tetapi juga membuka peluang distribusi yang lebih luas di kawasan Asia Tenggara.

Salah satu nama yang terlibat adalah Bront Palarae, sutradara sekaligus aktor asal Malaysia. Ia dipercaya mengambil bagian penting dalam proyek tersebut sebagai bentuk kerja sama industri film serumpun.

Bront mengaku merasa diterima sebagai bagian dari keluarga besar produksi sejak hari pertama syuting. Ia menyebut suasana kerja yang terbangun sangat mendukung proses kreatif lintas budaya.

Ia juga menilai arahan Joko Anwar sangat detail dan terstruktur. “His direction is very precise and I like that,” ujar Bront dalam kesempatan tersebut.

Lagu “Anugerah Harmoni” Lawang Pitu Tembus Ajang Indie Movie Video Awards 2026

Menurutnya, arahan yang jelas membuatnya lebih percaya diri meski harus berdialog dalam bahasa Indonesia. Ia merasakan kenyamanan dalam proses adaptasi bahasa karena dukungan dari tim produksi.

Dari sisi produksi, keterlibatan aktor dan sineas Malaysia diharapkan mampu memperluas jangkauan penonton, khususnya di pasar Asia Tenggara. Kolaborasi ini juga menjadi langkah konkret mempererat hubungan industri film Indonesia dan Malaysia.

Joko Anwar mengungkapkan, eksplorasi ruang tertutup yang menjadi ciri sejumlah karyanya kembali menjadi pijakan utama dalam merancang ide cerita terbaru. Asmen.id

Proses pemilihan salah satu pemeran dalam film ini dilakukan secara terbuka melalui media sosial. Tim produksi membuka kesempatan bagi publik untuk mengikuti audisi daring.

Sebanyak kurang lebih 700 peserta mengirimkan video audisi. Dari ratusan pendaftar tersebut, hanya satu nama yang dinilai paling sesuai dengan karakter yang dibutuhkan dalam cerita.

Joko Anwar menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah melalui proses seleksi ketat. Ia menilai video yang terpilih memiliki energi dan keunikan yang menonjol dibanding peserta lain.

PUSPAGA Kota Bekasi Edukasi Bahaya Grooming Lewat Talkshow di Ruang Publik

“Begitu melihat videonya, satu kantor langsung teriak. Kami tahu, ini orangnya,” kata Joko Anwar.

Selain para aktor, sinematografer film ini juga terlibat sebagai pemain. Pengalaman berada di depan kamera memberinya sudut pandang baru terhadap proses akting.

Ia menuturkan bahwa pengalaman tersebut membantunya memahami kebutuhan aktor saat pengambilan gambar. Dengan memahami posisi pemain, ia dapat menciptakan suasana kerja yang lebih nyaman di balik kamera.

Secara keseluruhan, para pemain sepakat bahwa suasana produksi berlangsung hangat dan penuh rasa kekeluargaan. Pendekatan tersebut diyakini akan tercermin dalam hasil akhir film yang memadukan ketegangan, humor, serta sentuhan isu sosial.

Melalui Ghost in the Cell: Hantu di Penjara, Joko Anwar bersama rumah produksi Come and See Pictures berupaya menghadirkan warna baru dalam genre horor Indonesia. Film ini diharapkan menjadi tontonan segar yang mampu menyajikan cerita menegangkan sekaligus menghibur dalam satu kemasan yang utuh. (***)

Arsitektur Masa Depan: Hunian Hijau di Perkotaan

 

(Rizki)

Rizki Trainar: