JAKARTA – Forum Kepakaran Indonesia (FKI) menggelar forum diskusi publik bertema “Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045” yang diselenggarakan secara hybrid melalui Zoom Meeting dan siaran langsung dari Studio Intel, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (3/6/2026).
Kegiatan tersebut dimoderatori oleh Prof. Dr. Ir. Edi Sugiono, SE., MM., yang juga Dekan Universitas Nasional, dengan menghadirkan tiga narasumber, yakni Ketua FKI Dr. Risman Pasaribu, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Ujang Maman, M.Si., serta Guru Besar Universitas Indonesia Prof. Dr. Drs. Supriatna, MT.
Reformulasi Food Estate Berbasis TORA
Dalam sesi pemaparan, Guru Besar Program Magister Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Ujang Maman, M.Si., mengusulkan reformulasi kebijakan food estate berbasis Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) sebagai strategi memperkuat swasembada dan kedaulatan pangan nasional.
Ia menyebut Indonesia telah mencapai swasembada beras pada 2025, dengan produksi sekitar 34,69 juta ton atau melampaui kebutuhan konsumsi nasional yang berada di kisaran 31,1 juta ton. Pada 2026, ketersediaan beras diproyeksikan mencapai 47,1 juta ton.
Namun demikian, ia menilai capaian tersebut masih rentan karena belum ditopang keberlanjutan lahan pertanian.
“Keberhasilan swasembada pangan saat ini perlu diperkuat dengan kebijakan yang mampu menjamin keberlanjutan lahan pertanian sebagai fondasi utama produksi pangan nasional,” ujar Ujang.
Ia menegaskan, ketahanan pangan tidak hanya menyangkut ketersediaan dan keterjangkauan, tetapi juga harus mencakup kemandirian dan kedaulatan pangan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan.
Menurutnya, tantangan utama saat ini adalah alih fungsi lahan yang terus terjadi serta lemahnya implementasi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Kondisi tersebut diperparah dengan menurunnya daya dukung lahan dan tekanan lingkungan di sejumlah wilayah.
Untuk itu, ia menawarkan model food estate yang diintegrasikan dengan program TORA melalui sistem kemitraan antara negara dan petani.
“TORA tidak hanya diberikan kepada individu, tetapi juga dapat dikelola kelompok seperti koperasi, gabungan kelompok tani, hingga pesantren yang memiliki kapasitas produksi,” katanya.
Ia juga menekankan perlunya penguatan data lahan, infrastruktur pertanian, teknologi tepat guna, serta koordinasi lintas kementerian agar kebijakan berjalan efektif.
Kritik dan Sorotan Ketahanan Pangan
Ketua FKI, Dr. Risman Pasaribu, dalam kesempatan tersebut menyoroti bahwa ketahanan pangan tidak hanya terbatas pada komoditas beras, melainkan mencakup berbagai sektor pangan lainnya.
Ia menilai Indonesia sebagai negara agraris memiliki potensi besar, namun masih menghadapi sejumlah tantangan dalam mewujudkan ketahanan pangan yang stabil.
“Fakta di lapangan menunjukkan harga beras masih mengalami kenaikan dan belum sepenuhnya stabil,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya regulasi sumber daya manusia di sektor pertanian, penguatan sistem irigasi, serta kebijakan pupuk yang dinilai masih menjadi beban bagi petani.
Menurutnya, pemerintah perlu lebih serius dalam mengoptimalkan potensi daerah, termasuk pengelolaan lahan dan peningkatan kesejahteraan petani.
Sorotan Lingkungan dan Teknologi Pertanian
Sementara itu, Guru Besar Universitas Indonesia Prof. Dr. Supriatna, MT., yang hadir secara daring, menyoroti dampak alih fungsi lahan terhadap risiko bencana lingkungan seperti erosi dan longsor.
Ia menegaskan pentingnya pemetaan pola curah hujan untuk menentukan wilayah yang cocok bagi pengembangan pertanian secara presisi.
“Pola hujan di berbagai daerah dapat diprediksi, sehingga penentuan lokasi pertanian bisa lebih tepat dan mendukung ketahanan pangan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya teknologi penyimpanan hasil panen, seperti silo, untuk menjaga kualitas gabah agar lebih tahan lama.
Menurutnya, kombinasi antara pemanfaatan teknologi, pemetaan lahan yang tepat, serta pengelolaan produksi dapat memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
